Tentara Ini Keluar Dari Milite

Kalian pasti sudah familiar dengan Betadine, cairan yang berfungsi menyembuhkan luka. Saat ini pasti kalian akan dengan mudah menemukan Betadine pada kotak P3K. “Kini hampir semua orang di Indonesia ingat Betadine, bukan obat merah, jika terluka,” kata dr. Tjan alias Kahar Tjandra dalam 75 tahun Kahar Tjandra : Pengabdian Paripurna Dokter dan Entrepreneur Sejati (2004).

Tentara Ini Keluar Dari Milite

Dalam buku itu juga ditulis “25 tahun sudah Betadine mengobati ‘luka’ anak bangsa.” Jika kalian belum tahu mengapa Betadine dapat menyembuhkan luka luar, hal ini disebabkan oleh kandungan Povidone Iodine yang merupakan antiseptik superior yang diterima secara luas. Betadine sendiri adalah pengembangan dari iodine temuan Alexander Fleming dari masa PD II dan diluncurkan pertama kali tahun 1955.

Penyebarluasan Betadine di Indonesia tidak luput dari jasa seorang dokter bernama Tjan Ke Hoat alias Kahar Tjandra. Pria kelahiran Padang. 24 November 1929 ini bekerja sebagai dokter sekaligus perwira kesehatan di Resimen Para Komando Angkatan Darat yang kini menjadi Kopassus dengan pangkat Letnan Satu. Namun karier militer itu terkesan sebagai batu lompatan saja dalam hidupnya.

Tentara Ini Keluar Dari Milite

Ia memilih untuk tidak berlama-lama di militer dan tidak mengejar pangkat hingga jenderal. Padahal jika ia bertahan, mungkin orang-orang tak berani padanya dan dia tidak akan dipanggil “Cina” karena ada suatu masa, orang berseragam Kopassus sangat dihormati. Dokter Tjan memilih untuk mengembangkan karier sebagai dokter swasta di Jakarta. Saat dirinya keluar dari kesatuan, Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sempat memanggilnya.

Dokter Tjan dibujuk agar tetap bergabung di kesatuan namun Dokter Tjan menjawab, “Maaf Pak, sepertinya saya ini tak punya jiwa tentara.” Ia pun mengiyakan jika dirinya ingin melanjutkan sekolah lagi. Setelah keluar dari militer, Dokter Tjan mengabdi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dari 1964-1984 dan sempat menjadi pengajar di Fakultas Kedokteran UI.

Tahun 1967 menjadi tahun yang berarti bagi Dokter Tjan. Ia mengubah ruang tamu rumah yang berlokasi di Jl. Makaham menjadi apotek dan menjadi awal mula Apotek Mahakam. Pada tahun 1977, ia membeli sebuah perusahaan farmasi yang hampir bangkrut, PT. Daya Muda Agung yang pada akhirnya memegang izin penjualan Betadine di Indonesia.

Tentara Ini Keluar Dari Milite

Penjualan Betadine pun bangkit sejak dimiliki Dokter Tjan. Bahkan, dalam 3 tahun setelahnya, Dokter Tjan membeli izin untuk memproduksi Betadine di PT. Mahakam Beta Farma yang mulai beroperasi tahun 1980. Semula pabrik ini berada di lahan seluas 500 m2 di Jalan Limo, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Saat ia menaikkan kapasitas produksi maka pabrik dibuka lagi di kawasan Industri Pulogadung.

Betadine yang telah masuk di pasaran masyarakat Indonesia sejak 1980-an kini telah identik sebagai produk obat merah. Betadine disejajarkan dengan produk legendaris seperti Honda yang selalu dipakai untuk menyebut sepeda motor, Sanyo untuk pompa air, Aqua untuk air mineral dalam botol, Toa untuk pengeras suara, dan lain sebagainya. Menurut catatan, bisnis yang dimiliki oleh Dokter Tjan bukan hanya Betadine saja.

Ia juga memiliki genteng berwarna dalam bendera PT Perumindo Indah; pabrik kecap Maya, saus, cabe, juga sirup dalam PT Inkenas Agung; kembang plastik dalam PT Golden Star Plastic Works; gas bius N2O dalam PT Beta Gasindo Agung. Bahkan sang istri merambah bisnis kue bernama Le Gourmet Bakery and Cake. Ditambah apotek yang ada di mana-mana, bukan cuma Apotek Mahakam saja tapi juga Apotek Prapanca, Apotek Perla, dan Apotek Senapati.

Sumber : Tirto.id